Public Trial

Berhasil di bangku perkuliahan adalah cita-cita besar orang tuaku. Khususnya Papi! Beliau berharap besar kami jadi seorang gadis yang menyandang gelar sarjana sesuai dengan harapannya dimasa depan. Yaghhh….itulah dia!

Dulu ketika aku masih duduk di kelas bermain ia dengan semangatnya mengantar aku ke sekolah taman kanak-kanak, menenteng tas ku dan menungguku sampai bel sekolah dikelentengkan. Begitu juga waktu aku lomba Bhineka Tunggal Ika, papiku mau meluangkan waktunya satu hari penuh untuk menemani dan menjagaku lomba pakaian adat. Lucunya hari itu.. aku berbalut ulos yang didesign sendiri oleh mami yang saat itu masih sibuk-sibuknya ngurus Elan yang masih bayi. Menggandengku dengan penuh sayang, memberiku makan, foto bersama badut Ancol, sampai akhirnya tanpa aku mengerti bahwa aku pemenang piala baju adat itu! Yagh…itulah aku waktu TK PURATA I.

Masuk sekolah dasar, yang aku ingat adalah aku selalu bangun jam 5 pagi untuk bersiap-siap, sarapan, dan naik jemputan. Yagghh…untuk daerah rumah yang masih menengah ke bawah aku termasuk anak yang cukup beruntung dibandingkan dengan teman-teman seusiaku yang lain. Karena aku sekolah di yayasan khatolik dan naik jemputan. Nama sekolahku.. SD TUNAS KELUARGA MULIA MARSUDIRINI.. Cerita sedikit tentang rutinitas masa merah putihku ya…..
Setiap pagi aku harus bangun jam 5 pagi, dan sarapan nasi uduk yang dibeli di warung Bu Supadi. Aku termasuk anak yang susah makan, sangkin susahnya setiap pagi aku harus menahan muntah karena mulutku dijejali sesendok nasi yang penuh membungkam mulutku, mami yang nyuapin. Aku tidak suka sarapan, makanya sendokan nasi itu lama bersarang dimulutku yang mungil. Sangkin lamanya aku mendorongnya dengan air dan kemudian menerima sendokan berikutnya sampai akhirnya perutku kenyang sebelum nasi itu habis. Liciknya kadang untuk menyenangkan mami, nasi itu kuhabiskan tapi aku lebih sering ke dapur untuk membuang suapan nasi yang dimulutku kebalik kompor! Tidak berhenti disitu, mami masih menyuruhku untuk minum susu putih. Minuman yang paling aku ga suka sampai sekarang ini!!! Aku pun mual dan buru-buru mengambil tas sekolahku lalu berlari meniti jembatan kayu yang masih menjadi jalan penghubung area rumah kami ke jalan raya. Kau tau??? Mami mengejarku dari belakang sampai kejemputan. Malunya aku dipaksa menghabiskan segelas besar susu di mobil jemputan, ditunggu oleh supir, dan dilihat oleh anak-anak satu jemputan. MUAL!! Sampai aku hampir nangis..mataku berkaca-kaca dan sepanjang perjalanan aku harus menahan mual dan mules. Dan pelajaran berlangsung aku mulai merasa ngantuk sangkin kekenyangan. Untung ada keharusan dalam diriku untuk mendapat nilai bagus untuk aku laporkan ke mami sepulang sekolah nanti kalo ga..mungkin aku memilih untuk tidur! Aku cukup pintar. Nilaiku selalu bagus, bahkan aku mendapat rangking 2 di caturwulan pertama kelas 1 SD dan itu hadiah yang sangat berharga untuk papi dan mami. Dengan keadaan ekonomi pemula alias sederhana untuk kalangan aku di sekolah yayasan khatolik yang rata-rata tajir dan china, aku termasuk saingan buat mereka. Bahkan aku tak begitu mengerti apa artinya rangking dan bersaing, mami yang ngerti semuanya. Dia begitu keras mengajariku setiap pulang sekolah dan malam. Jadwal belajarku sangat padat sampai-sampai jatah bermainku sangat sedikit dan aku jadi kurang bergaul dengan teman-temanku sejak aku masuk SD. PR, ulangan, menghafal, dikte, hitung-hitungan, PSPB, aghh….bernostalgia dengan moment itu membuatku sedih namun bangga karena aku ternyata sempat membanggakan kedua orang tua, meskipun mereka tidak pernah menunjukkan itu. Buktinya mami terus menerus keras mengajar ku tiap malam, cubitan, suara dengan nada 2 oktaf, sapu lidi, hampir tiap malam pahaku dinner dan dua hari kemudian biru-biru..mimisan..nilai juga ga boleh dibawah 10 harus sepuluh! Pernah satu kejadian aku dapet nilai 9. Segitu ulangan dibagi wajahku langsung merinding, jantungku berdebar kencang, wajahku mungkin pucat, aku takut pulang!! Kaki mengayun lemas menuju parkir jemputan, sengaja juga aku lamain biar lama sampai di rumah. Di jemputan, aku hanya duduk merenung, keringetan, menahan tangis karena takut diomelin sekaligus menahan lapar karena uang jajan juga udah abis. Sepanjang jalan aku berdoa dan berharap ada tamu di rumah untuk menunda waktu, yang ada dibayanganku ketika itu hanyalah sambutan mami di depan pintu dengan senyum lalu mengambil tasku untuk diperiksa isinya sampai kantong-kantong terkecil dan tersentak kaget kala membalik lembaran buku ulangan yang tertera angka 9 dikotak nilai. Pasti dia sangat kaget!! Tapi ternyata khayalanku itu buyar!! Sesampainya aku di rumah aku tak melihat mami di depan pintu. Memasuki rumah, ternyata rumah kosong. Berjalan ke dapur aku mendengar suara kesibukan. Yah…mami lagi nyuci!! Aku agak lega karna mami ga harus meriksa-meriksa tas segera. Aku mulai sepik. Banyak omong. Cerita terus tentang sekolah satu hari ini, padahal dagdigdug terus menghajar jantungku. Tanpa melepas seragam dan mengambil piring aku terus bercerita, mungkin mami bingung. Dan dia memang ibu yang peka untuk urusan sekolah! “Ulangan kemarin udah dibagi??” tanyanya judes dan membuat bulu kudukku berdiri tegang. Aku berusaha santai. “Udah” jawabku sambil main air cucian. “Dapet berapa?” “9!” jawabku enteng tanpa merasa bersalah. “Siapa yang dapet 10?” “Angel.” Jawabku melongos. Seketika mami melemparku dengan sikat kain dan menyuruhku ganti baju lalu makan. Setelah semua itu selesai. Aku distrap! Jam tidur siangku berkurang, cubitan menghajar paha-perut, bahkan pukulan mendarat keras dikepala dan tubuhku. Dan dari situ aku takut untuk dapat 9 apalagi 8.5, 7,..padahal kalau dijemputan teman-teman satu jemputan begitu bahagianya dan bangganya mendapat nilai 7, 8.5, 9….aghhh….bahkan nominal nilaiku lebih besar dari mereka, aku masih harus ketakutan untuk pulang ke rumah, mereka justru sangat bahagia seperti akan mendapat rangking 1 untuk pembagian raport nanti!! Dan itulah alasan kenapa aku pernah mengumpatkan lembaran testing waktu kelas 2SD di kolong jembatan sampai kertas itu basah tersiram hujan dan lembab karena udah berhari-hari di alam terbuka. Sampai akhirnya aku memindahkan lokasi persembunyian kertas ulangan dikolong lemariku. Tidak hanya aku, saudara perempuan ku pun merasakan hal yang sama. Dan sikap-sikap itu yang menghantarkan kami ke gerbang rangking sampai akhirnya kami harus maju ke depan untuk penyerahan piala kejuaraan 3 besar di akhir tahun ajaran. Dan hal inilah yang membuat orang tuaku bangga. Memang mereka tidak menunjukkannya secara total. Tapi aku mengetahuinya lewat obrolan-obrolan mereka dengan Tulang Bora yang selalu membahas sekolah dan nilai-nilai kami, sekalipun papi harus keluar tiap malam karena ga tega melihat kami dihajar saat diajar. That’s Mom..tanpa pukulan dan hajarannya mungkin kami ga jadi pintar, otak kami ga cekatan untuk memperjuangkan nilai-nilai kami. Dan sampai kini hajaran itu masih terus kami ingat dan kuat untuk mendorong kami terus belajar. Thanks Mom..u know the best for us…love u =)

Lulus dari SD, aku menorehkan kebahagiaan lagi untuk papi dan mami. Memang aku ga jadi juara umum satu sekolah, tapi NEM ku cukup tinggi, 40.32, dan aku melanjutkan pendidikanku di yayasan yang sama, SLTP KELUARGA KUSUMA MARSUDIRINI. Aku memang ga rangking 3 besar lagi, tapi masih 10 besar. Dan itu cukup buat orang tuaku. Memang ada perubahan total mami dengan masa SD ku tapi tetep aja, aku masih degdegan setiap kali ambil rapot, rangkingkah atau engga?? Kalau engga bersiaplah!! Untungnya sampai SMP lulus aku masih terdaftar dalam siswa unggulan, yakni siswa-siswi 10 besar. Aku bukan siswa yang tergolong rajin pula, sering juga ngerjain PR di sekolah. Tapi sering juga PR ku dicontek satu kelas. Apalagi kalo ujian…mmmm…..jawabanku lumayan banyak penggemarnya. Aku bukan siswa yang pelit, buatku mereka ga mungkin merebut posisi rangkingku kalau semua jawaban ini dicopypaste. Jadi silahkan saja bertanya asal ga ketahuan dan mengganggu konsentrasiku. Kalau nilaiku boleh gemilang, persoalan pergaulan aku pun gemilang sekalipun aku bukan termasuk anak geng yang pamornya melejit di sekolah. Tidak cantik, tidak gaul, tidak, modis, tidak banyak uang! Teman-temanku adalah Sedengk Group, basis KWK 03A, teman-teman seperjalan pulang yang menghabiskan waktu pulang sekolah dengan becanda gila sampai aku harus ngompol setiap hari. Mereka (Ratih, Mena, Vega, Tarida, Dita, Devi, Elinda) mewarnai masa-masa pulang sekolah dengan tawa bersama, ongkos yang 300 rupiah dengan sabotase tempat satu KWK, gelak tawa yang meledak sampai terkadang abang supir nya nimbrung ngelawak dan lebih sering diomelin siiii…..!!! penumpangnya juga gitu kadang reseh marah-marah, kadang senyum-senyum nahan ketawa. Haha…yang dibecandain kadang-kadang juga penumpang ato guru, atau gangster sekolah, kaka kelas favorit dan menyebalkan!! Semuanya!!! Aghhh…kangen masa-masa itu!!!
Ga Cuma Sedenk Group. Pas kelas 3, gw juga punya kelompok sendiri karena kita sekelas dan les inggris bareng di pak Frans. Melati, Joanie, Mena, dan gw. Persahabatan pintar dan jutek. Ia..soalnya kita suka ngegebukin anak cowo yang suka main bareng kita kalo lagi ketawa. Belum lagi kita berahasia-rahasiaan soal cowo…Mel sama Hendrik, Joe sama Beni, Mena sama Jimmi, dan gw sama Beruk….hahaa!!!! Lucunya!!!!! Soal gw sama Beruk termasuk sejarah diangkatan gw, gada anak-anak yang gatau soal ini. Mungkin ini juga yang ngingetin anak-anak sama siswa yang bernama Engrith. Gw bukan siswi tenar. Kalo bukan karena SD di Marzoed dan rangking 10 besar mungkin mereka ga akan tahu kalo ada siswa yang bernama Engrith di sekolah itu. Dan yang menggarisbawahi keberadaan gw itu ya Beruk, alias Bertoni Sinaga. Haha….impressed moment!! Dan moment-moment seru ala aku dan kawan-kawan pun berakhir dikelulusan SMP kami. Kami berpisah di sekolah menengah atas yang berbeda-beda. Dan aku, aku melanjutkan masa SMA ku di SMA favorit Jakarta Utara.

SMA Negri 13. Aku berhasil masuk di sekolah unggulan Utara Jakarta ini. Dengan urutan ke-216 dari 360 siswa. Aku satu dari 4 siswa MARSUDIRINI yang berhasil duduk dibangku sekolah unggulan. Bukan karena NEM ku yang tinggi di SMP, teman-teman yang jauh lebih pintar diangkatanku dulu lebih memilih SMA.FONS VITAE untuk jenjang pendidikan mereka berikutnya. Dan karna itulah aku bisa berhasil mendapat kursi ini. Dan seperti yang dikatakan kaka-kaka PRK, bukan suatu kebetulan aku masuk di SMA ini tapi karena TUHAN telah menempatkan aku untuk menjadi pelayanNYA. Dan itu kurasakan ketika aku mulai aktif di persekutuan rohani Kristen sejak kelas 2 sampai lulus. Di kelas 1 aku masih bergelut dengan emosiku. Menjalin kasih dengan Kuro hampir satu tahun, perayaannya adalah 16 September 2002. Berbagai penolakan menghantam hubungan perbedaan keyakinan kami, sampai akhirnya kami harus putus di kelas 2, dan mengundang tangis air mata. Hampir setengah tahun aku bergumul dengan sakit hati dan akhirnya bangkit bersama teman-teman PRK yang membuka tangan mereka lebar-lebar untuk menerimaku sekalipun masa laluku gelap. Aku diberi kesempatan untuk memimpin kegiatan persekutuan yaitu Retreat. Proyek ini tak kumengerti sama sekali karena tak pernah sekalipun aku menjalani kegitan-kegitan semacam ini waktu kelas satu kemarin, tapi ternyata aku ga sendirian. Banyak sekali bala pasukan yang membantuku..tanpa mereka aku ga tau apa yang harus dikerjain. Leo, Josua, Heni, dan teman-teman……..memang bukan Retreat yang memuaskan untuk kalangan senior dan alumni, tapi sejak moment inilah aku mulai banyak mengenal teman-teman PRK yang lain, dan mulailah aku bergabung dengan PRK dan menghabiskan masa SMA ku bergaul bersama mereka..bercanda, ketawa, cari dana, KJ bareng, singer, …dan di kelas 2 ini aku meninggalkan ekstrakulikuler PASKIBRA yang di kelas satu lalu rajin kuikuti sampai aku terdaftar menjadi Junior Istimewa Paskibra 13 Angkatan 15. Kelas dua memang start awal masa indah SMA ku, anak-anak DUREN (2.6 keren) yang kompak abis dan dahsyat lucunya!! Menggiringku untuk mengakui bahwa masa-masa SMA adalah masa kebahagiaan untuk seorang pelajar. (Chepita, eRNita, Dwi, Bebek, City, Vanes Om, Dini –cw2 metal yg menggila di jahanam-.. Dani si tampan, Abang Vicky, Cucu, Pandu Jenggot dan para aliansi, Muchwan sang ketua kelas, Andre Bewok, Haning –kapan naik ojek lagi dr semper?-, Boris si Jenius, Joko –ehm…no comment!-, Wulan yang mulia hatinya….”Lan..masih inget ga waktu kelas 1 ngipasin rok gw karna ngompol?”..etu yg super sibuk OSISnya, Ari dan Amin –temen seperjuangan dari jaman-jamannya Kuro-….Erni-Indah-Ria yg kalem…Mega teman pengibar bendera 2.6…Widya yg lugu..Rani si Fairish..Dila yang ulang tahun bagi-bagi Timtam..Didik Si Yuyu Kangkang..and all 2.6 people). 2.6…kangen sama kegilaan kita masa putih abu-abu…ngegosip dan menggila di jam kosong sementara pria-pria itu main kartu..makan bareng ke kantin..buka bareng-natal bersama..drama inggris Bu Eha..TUMPENG!!!kangen ya????????” Naik ke kelas 3 gw masuk IPS, 3 SOC 4, bersekutu dengan Lyra, Erica, dan Indah. Ini juga!! Akhir tahun yang konyol! Fidel yg error, Subhan yg ngelawak terus, Topan yg gila, Anes si Guguk, Panji bae yg lucu, Beni Gila tukang ngocok perut ngecengin guru, Andro yang suka beli tahu di kantin, Ramah yg belagu, Pa’Djapaya “ada apa gerangan dua gadis itu tertawa terus???”..masa pertama kenal Friendster gara-gara ada warnet di sekolah.
LDK…!!! Yeahhh!!!!! Ini moment puncaknya SMA!! Bukan karna ngospek ade kelas tapi karna kita anak kelas 3 kerja keras buat acara ini, mental-rohani-fisik bener-bener diuji sampai akhirnya kita bisa bercermin dari pendapat ade kelas tentang siapa kita dari sudut pandang mereka..fiiiuuhhh….ternyata kita ga lebih dari senior yang ga rohani dan opini itu kembali diluruskan disession pembalasan dan permintaan maaf. Dan lewat acara ini terbentuklah S.H TEAM..Monieq, Lyra, Boa, Agnes, dan Gw. Gadis-gadis yang sakit hatinya karena cowo!! Cuma Monieq yg bahagia..aggghhh….serunya!!! Cur On di mobil Monieq.

foto LDK…di Villa Pasasi…
temu kangen..tahun pertama jadi mahasiswi..
gw..beni kocak..anes guguk..lyra endut