tak ada yang memilih melon. “takut, kulitnya seperti kulit ular.” hanya aku yang memilihnya, lalu mengupasnya. kupotong dadu dan kusimpan di lemari es. “aman” gumamku. lalu kutinggal hanya untuk mengecek email dan …hmmpp aku harus membaca deretan email yang tak satupun bisa kuabaikan hingga petang tiba.

cukup perih memang. apalagi otak kupaksa untuk berputar. konsep minimalis, konsep arabic, flower covered, diamond party..hmmpp..rasanya hampir lebih dari 200 juta masuk ke tabungan digitalku tahun ini. tapi karna ini bisa kuhitung berapa kali aku harus ke toilet untuk membuang apa yang seharusnya kubuang. malas merestart otak lagi, scary to loose the brilliant idea.

ooiiaa..mmeelloonn!!aku pun beranjak ke dapur. dan membuka kulkas.”whaaattt????!!!””dimana melon gw???!!!!!”

Yagghh…begitulah curhatan Mendozza Victor di agendanya. Yang setiap malam ia ketik ulang ke sebuah blog dan sampai saat ini sudah dikomentari 18 orang.

Kau tau arti kata ngedemprak??

Kata itulah yang lekat dengan pribadi seorang konseptor Event Organizer ini. Selalu menggendong laptop krem nya yang memuat karya mahal untuk pestanya anak muda berdompet silver. Engga pernah mentok ide dan ga pernah kehabisan link untuk order partisi dan bintang tamu.Tempat favoritnya perpustakaan, taman, dan lobi, terkadang hall bisa dia jadiin ide buat koleksi tema unik-uniknya. Modalnya memori otak sama memori kamera. Engga segan-segan dia berpose bak photographer di mana aja kalo passion conceptor nya lagi lighting on, mengalir deras dan terbayar mahal of course.

disini hujan lagi sayang.

aku masih dikantor menyelesaikan beberapa konsep.

atasanku baru saja menyuruh OG membeli gorengan.

lumayan dikunyah untuk teman dikala hujan dan berpikir.

oia..daritadi yang ada di otakku hanya sepatu..sepatu..dan sepatu.

aku baru saja pulang dari coffee shop meetting dengan klien.

mereka mau bikin not party temanya musik, konsepnya sederhana banget tapi touchable.

lebih ke arah humanity. event besar dengan nama “NOT PARTY” ini idenya komunitas musisi jalanan yang karya nya akan dilelang oleh sejumlah musisi kondang atau bahkan produser dan label musik.

keren yaahh..catchy idenya!!

itu cuma intermezzo aja sayang..

sebenernya aku mau angkat soal “sepatu”.

iaa sepatu..ga percaya??

tadinya aku juga heran.

aku tadi sampe duluan di reserved place yang mereka booked.

hampir 15 menit aku nunggu.mereka ga telat on time malah..nah iaa..aku yang sengaja datang lebih awal.

ketika 5P itu berjalan menuju mejaku sekejap aku terpukau.

1. cara jalan mereka yang arrogan

2. gaya mereka yang bikin orang berhenti menyedot sparkling blue nya

3. style mereka yang bikin aku sejenak pause. hmm..lebih tepatnya tersadar ketika mereka sampai di meja dan

meberikan tangannya sambil bertanya, “mendozza?” aku pun senyum hidden shy face.

Pascalis. He is the Team Leader. Bersahaja banget. Sebenernya bukan tergolong cowo ganteng tapi macho dan cool. Ketauan degh kalo dia pinter dan kreatif. Satu yang paling gw suka, tata bahasa yang dikemas disuara beratnya yang aagghhh berdesir darah gw ..sampe sekarang rekaman otak gw masih play khusus untuk track his voice.

Pierre. Dia Tim Kreatif sekaligus Copywritter. Gilaaaaa…nii cowo detail banget maunya. Gw sampe heran kenapa mereka harus sewa perusahaan gw jadi EO mereka. Secara nii orang kayanya lebih handal dan profesional banget. Otaknya illustrator sejati dan banyak referensi yang dia jelasin, lumayan nambah ilmu. Hmm..gw rasa ni orang bisa gw rekrut di perusahaan gw kalo dia udah lulus kuliah nanti.Gambarnya keren. Love it so!!

Pricillya. Cantik banget. Wangi banget. Dan selalu pake istilah keren disetiap angle dia bergerak. Sekretaris. Dan gw rasa dia suka sama si Pierre ini. Atau mereka berdua pacaran? Abis sapaan khusus mereka berdua “hubby” sii.. bikin pingin tau tentang mereka buat bahan blog gw.eggghh….tuh kan..skala prioritas gw sekarang kan EO bukan blog!! hmm..

Penellope. Namanya kaya temen-temennya twitty n tazmania. Hehe..but she is a great accounting. Dia yang berani ngejamin kalo acaranya bakal sukses dengan dana yang bisa dia pertanggungjawabkan. Jadi EO gw bisa percayain mereka soal budget.

Pujay. Daritadi dia cuma senyum dan mengangguk. Ga banyak ngomong dan ga kasih saran apa-apa. Gw sempet ngeliriknya beberapa kali sampai mata gw beradu tatap sama dia. Dia hanya tersenyum manis tanpa ada perubahan dimenit berikutnya. Gw bingung ni orang ngapain ikut meeting kalo cuma membisu. Dan ternyata…gw harus belajar lebih lagi kata pepatah “don’t judge the book from the cover”. He is a talented musician. Peka banget sama not dan dentingan piano, petikan gitar, dan siulan harmonica sampe sexophone yang berteretet. Bahkan nanti dia talented person yang mimpin musisi jalanan itu bekolaborasi [[di bagian acara mereka–adalah idenya si Pierre itu]].

Intinya yang masih berputar-putar di otak gw: I do not to do this EO extra coz the concept done by them and of coruse i’ve to search and make they want and link the actrees and label.Hmmpp..it enough to help!! LOVE U 5P.

udah dapet kan sedikit karakter mereka??

yups!!

tanpa sengaja pulpen hi tech gw jatoh ke lantai. dan pastinya harus gw ambil.

and u know mendozza?

they wear unique shoes, slipper, heels, anything covered their foot.

i am surprised!!

and it ‘s the fourth point that i’ve just know why those people in this cafe looked them from up till down. fantastic!!

udah nonton STEP UP 3??

sepatu shoes nike hijau limited edition yang dipake sama Rick Malambri. itu yang dipake sama Pascalis. Dan gw harap dia sejago Rick kalo ngedance.

Pierre lebih gaya lagi. Dia pake Khombu Men’s Riley Brown yang harganya kalo gw check di internet itu $59.99 dan udah didiskon 20 %. hufffhhhhhhhhhhhhhhh….pasti anak orang kaya!!

Dan si talented Pujay he was wearing DC Shoes Men’s Flawless Black Lime produk terbaru itu……ooghhhh.!!

Si cantik Pricillya dia pake huspuppies LIA warna siilver matching sama bando silver yang dia pake untuk ngangkat poninya. Feminin look and gw sangat mengagumi dia. Entahlah but i am normal. Waste ur bad thought!

Dan ini dia yang paling wow, Penellope dengan WedgeWellyGiraffe Glamourdengan price 34.99 poundsterling setelah gw iseng caritahu sepatunya yang tinggi percis merknya yang giraffe itu.

Tadi sempet bertwittwit sama temen soal sepatu mereka. Dan apa kata mereka?

Shoes shows status.

Yagh..dan itu pasti!

Coba aja kita jalan pasti sepasang mata ini ga jarang ngeliatin orang jalan berlenggak-lenggok dan pastinya lagi kita pingin tahu sepatu apa yang mereka pake sampe sePD ituu jalannya. Offhhh…..itu bahwasannya 5P penuh aura ketika melewati enterdoor dan catwalk di lorong menuju reserved table. Dan gw yang sudah berjuta-juta rupiah direkening gw ga punya tuuh sepatu yang harganya lebih dari sejuta. Waste money! I am not seems like them. It is not my style, even I admire them.

Lepas dari itu semua..glamornya mereka ternyata punya cara berpikir yang seimbang untuk sebuah acara humanity NOT PARTY. Emang dasar entertain dan orang-orang musik. Susah!! Behave sederhana tapi punya. Itulah mereka semakin berisi semakin merunduk.

Dan kata-kata yang gw suka dari Pujay “Talenta yang kita punya itu anugerah. It means harus kita share ke banyak orang. Karena kalo kita salah ngegunainnya talenta itu akan dicabut sama Penciptanya.”

Keakuan gw untuk brilliant idea di kantor pun mulai luntur. Honestly, gw emang bangga banget jadi Leader Team di Creative Team yang ga sadar mungkin mencetak gw jadi individualistis dan egois.

Hmmppp…harus banyak bebenah diri sepertinya!!

Change myself be a human person!!!!!!! Have to. Absolutely. Must be. !! Yeaagghhh………..

Friday.

Malam ini aku mengelilingi jakarta dengan jazz ku. hadiah dari papa waktu aku lulus sarjana. gemerlapnya kota menyilaukan mataku yang tanpa kacamata. bukan itu pastinya yang akan kuangkat jadi cerita malam ini, mendozza..tapi aku akan berceritra tentang keseimbangan yang senjang. hanya saja aku lupa membawa kameraku tadi. aakkhh!! tapi berharap-semoga saja-wish..kata-kataku bisa menggambarkan apa yang kulihat tadi.

Kau tau mendozza? Aku sangat mengagumi kemewahan. Sangat menggemari makanan lezat yang mamamia lezatto. Sangat mencintai pernak-pernik cantik. Dan koleksiku selembar dari uang yang mereka transfer ke rekeningku. Kamarku bisa berubah setiap kali aku bosan. Bajuku bisa kudonasikan di sebuah bazaar anak muda gaul jakarta. Bahkan parfumku sampai kadaluarsa sangkin banyaknya berderet rapi di meja riasku. Tak urung semua membuatku terlelap dalam kenikmatan harta, kesilauan blitz lampu disco, dan keakuan nama besar yang dikejar-kejar rupiah.

Tadi aku berputar-putar di jalan raya ibukota sampai masuk ke lorong kereta api dan berbecek-becekkan di sebuah kampung di Jakarta. Aku baru tahu kalau ternyata Jakarta memiliki mereka. Sedangkan mereka tidak pernah memiliki Jakarta. Kenapa aku bisa bilang begitu?? Karena aku baru saja melihat mereka dengan hatiku. Jakarta si metropolitan ini sangat terkenal dengan Jakarta Fairnya, Bundaran HInya, Monas dengan kekayaan emasnya, dan gaya hidup eksekutif dan wanita karir yang berlenggaklenggok di trotoar merah. Bahkan sebaris perumahan elit disorot takjub dan disiarkan dilayar kaca. Itu semua tidak adil, mendozza. Mereka bilang hebat, mereka bilang fantastis, mereka bilah wow..sementara diujung jalan itu ??

Coba kita lihat ke sebelah kirimu.Lepas kacamata hitammu. Menunduklah dan gunakan hatimu ketika kau menatap dari lantai kantormu yang tertinggi. Mungkin saat ini engkau sedang menggenggam semug coffee hangat menatap jalan raya yang hiruk pikuk dengan tukang jualan, belum lagi ramainya kendaraan yang hilir mudik sambil menekan klakson menyuruh penyebrang untuk minggir atau bahkan menyuruh si penjaja dagangan di tengah jalan berpaling dari mobil pribadi mereka.

Sesak aku melihat ketidakseimbangan ini, mendozza. Aku tidak menyalahkan si pemilik mercy dan motor ninja..aku bercermin pada aku sendiri. Kemana aku selama ini tak tahu bahwa di luar sana ada yang mengulurkan tangan dan menegadahkan lima jarinya mengemis 500 perak. Bahkan bernyanyi dengan krecekan kayu dan tutup botol minuman yang dikait dengan paku ketika aku sedang mengunyah soto rawonku. Wajah mereka yang kusam, hitam, minta dikasihani dan terkadang memaksa hanya untuk mengisi perut. Bukan untuk ikut makan bersama apalagi meminta blackberry. Yang bisa kusedekahkan hanya sekantong gorengan dan seplastik jus yang kemudian membuat mereka berteriak mengucapkan terima kasih sambil berlrari. Dan kau tau ke mana mereka berlari? Ke teman-temannya. Berbagi. Ogghh God..mulia sekali. Sedangkan aku yang berkelimpahan tidak pernah terbersit untuk berbagi.

Mereka? Dengan kekurangan masih bisa berbagi. Apalah arti sekantong gorengan untuk dimakan rame-rame sedangkan mereka bergelantungan dan berlari di bawah matahari bolong. Yang kutahu hanya berbagi dengan klien ku karena mereka adalah raja dan mempercayaiku untuk handle acara hebat mereka. Memberikan yang terbaik. Karena aku dibayar mahal. Wajar. Tapi yang satu ini..beda makna kawan. Mereka berbagi karena mereka tidak punya apa-apa. Yang mereka dapat hanya sekedar. Mereka tertawa bukan karna mereka bahagia setelah berkaroke, tapi tertawa karena plastik permen mereka penuh recehan dan hampir jatuh melompat dari bis sangkin bahagianya. Mereka bercerita bukan seperti kita dengan dunia maya di twitter dan berkomentar ria soal foto terbaru seorang teman yang baru pulang dari luar negri. Mereka bicara soal pengamen lain yang bersolokarir diwilayah mereka, tentang bos mereka yang galak, tentang mereka yang bolos sekolah karena harus beli obat ibu yang batuk berdarah.. Prihatin sekali.

Mendozza..

aku tadi sempat parkir di depan ruko dan duduk bersama mereka. Asing mereka melihatku, aku pun segan bergabung..lebih tepatnya takut untuk tidak diterima. Bayangkan mendozza di upper class sana aku dan karya ku sudah pasti diterima dengan harga mahal. Tapi kenapa disini aku justru minder ya??

Aku hanya bisa tersenyum awalnya..ikut-ikutan tertawa kecil..sampe akhirnya ada satu anak laki-laki yang menghampiriku.

“kaka cantik sekali…kulitnya bersih…rambutnya juga bagus..”

aku senang disapa, zzaa…

“kamu juga lucu..baik lagi”

dia lalu memarken gigi kuningnya.

“kaka mau apa disini?”

aku bingung. bingung aja mau nyusun kata-kata apa. padahal aku kan suka nulis..

“aku mau liat kalian nyanyi disini…”

“emang kaka ga malu diliatin sama mereka??”

sekejap dia langsung membalikkan badan dan menunjuk mobil yang berjajar panjang du jalan raya.

kau tau?? angin yang ditabrak oleh tubuhnya tertiup asam dan mampir dihidungku untuk beberapa detik.

“engga koq..buat apa malu?? kan aku ga kenal sama mereka”

dia pun langsung mengangguk.

“”woooiii..woooii..gw dapet empat ribu wwooiiiii..” teriak seorang anak perempuan sambil menggendong bayi.

semua anak-anak yang bermain ditempat ku pun langsung lari seakan terbang bagai burung diberi makan oleh tuannya.

mereka pun ramai-ramai membeli getuk di pinggir jalan dan menikmatinya bersama.

ada haru yang kurasa..

hatiku pun tersentuh.

entahlah mendozza..ini kesenangan karna menemukan dunia lain dari rutinitas hidupku..atau aku memang punya sense of mellow yang baru saja tersentuh dan aku baru saja menyadarinya.

Sore itu gadis bernama Mendozza pun melajukan jazznya. dari utara ke timur membelah mampang, menembus kalibata hingga ke pondok bambu.. (jalur offroad.) menelusuri dewi sartika mengarah ke kiri melewati pancoran, gas dan 100 km/jam running!!!

Memutar-mutar pen sambil mengulum lolipop rasa melon. Pikirannya melayang entah apa yang sedang menari-nari di kepala Mendozza. Pintu kamarnya dikunci tak dihiraukan si ibu manggil-manggil mengantarkan sarapan. Masih mengenakan tanktop abu-abu dan celana piyama. Blackberry nya pun ditiban pake bantal guling karna berisik dari subuh tadi. Dan yang pasti malam tadi Mendozza mulai insomnia lagi.

“Setelah event NOT PARTY Zzaa cuti ya Pak. Dua minggu. Saya mau cari modal untuk nambah inspirasi lagi Pak. Saya pikir ide saya perlu dipugrade lagi.”

“Ok. ZZaa… Saya seneng cara kamu minta cuti. Bikin saya tulus untuk kasih ijin. Asaaall… ide briliant itu makin bersinar.”

Tersenyum. “Makasiih Pak.”

Hmmmppp…Mendozza..akhirnya aku bisa melihat matahari dengan mata telanjang.

Tidak lewat kacamata. Tidak dari balik kaca kantor. Tidak dari kaca film mobil.

Hari ini aku juga bisa pake hot pant atasan topless.

Memanggul tas homemade yang ringan.

Sendal jepit yang ringan dan ga bikin gerah jari-jari.

Dan bisa menggulung rambut sesukaku.

Yang paling penting aku ga harus pacaran sama laptop dan blackberry yang ngejar-ngejar aku seperti tawanan.

Aku didalam kereta kuda ajrut-ajrutan bersama ibu-ibu yang ribet sama belanjaan.

Ada nenek-nenek juga yang sibuk ngunyah dan memerahkan gigi dengan sirihnya.

Disini aku mencium bau angin..bau gunung…bau pedesaan yang segaaarrr..udaranya pun segar di kulit..mendesir tengkukku sampai merinding.

Mataku pun serasa direfresh..bisa melihat hijau yang alami.

Bunga yang merekah dengan embunnya.

Gunung yang menjulang menantang awan diklingkari cincin kabut putih.

Kiri kananku hanya daun dan burung yang terbang kian kemari.

–bersambung–

“Cantik”

Ujar seorang anak laki-laki kecil sambil mengunjang kacang rebus.

Aku tersenyum kaget.

“Mau?”

“Makasi de..”

Dia pun mengambil kacang-kacang itu dengan genggaman tangannya dan meletakkan ditelapak tanganku.

“Makan saja. Tidak beracun.”

“Emm…” aku pun tersenyum singa.

“Sudah. Kami tidak jahat. Tak mungkinlah kami meracuni wanita secantik kamu.”ujar anak itu lalu mamamerkan sederet giginya.”

Aku pun melempar pandanganku ke ibu-ibu yang ada dikiri kananku. Mereka hanya diam sambil tersenyum.

“Begini caranya…” Dia pun mengambil kacang dengan dua jarinya. Lalu ditaro ditelapak tangan, ditekan sampai nempel, lalu bertepuk tangan dua kali dengan keras, si kulit kacang pun pecah, diambilnya kulit kacang itu langsung ditaro dimulut. “Hehe…enak..asiiiinnn” Aku pun mengernyitkan dahi. Kemudian ia melepeh kulit kacang itu dan mengunyah daging kacangnya. Setelah menelan, kulit kacang terakhir ia kulum lagi dimulut dan dilepehkannya. “Lezzattoo..” Aku pun makin kaget ketika ia mengucapkan lezzattooo penuh ekspresi. “Hmm..de disert en epetaizer is perfekto!” Sumpah mendozza aku tersentak. “Kamu tau dari mana bahasa itu?” tanyaku tanpa mengurangi rasa hormat. “Banyak bule yang suka mengucapkan itu saat makan gurita pedas dengan cabai lombok masakan suku kami.” “OOooo…” jawabku mengerti. “Berminat?” tanyanya merona matanya berseri-seri. Aku pun mengangguk pasti. Karena menurutku, sepertinya anak ini menarik. “Yihhuuuiii!! Kan kubawa kau menyelam ke sungai mencari gurita. Pandai berenang?” Aku menggeleng. “OOuu..tenang saja akan aku ajarkan. Aku yakin kau akan berani berenang dan pandai menyelam dalam satu minggu.” Hah?? Dalam 1 mingguu?? Aku aja sudah dilatih sama angkatan laut gabisa juga mendozza, apalagi sama anak gurita ini. “Tenang..kamu hanya perlu menguasai rasa takutmu. Setelah kau lihat lautnya. Kau pasti tertarik untuk menaklukan laut. Jangan berteman denganku kalau seminggu nanti kau ga bisa berenang juga. Anggap saja kita tidak pernah bertemu sebelumnya.” Oooppp……anak ini???!! “Oia kenalkan namaku Ureng” menawarkan tangannya. “Aku Mendozza” jawabku tersenyum menatap matanya sambil menjabatnya. “Tanganmu halus” jawabnya sambil mengangkat alis. Aku pun tersenyum lagi. Sungguh anak ini!!! Benar-benar diluar jangkauan.

Yaaa memang benar2 di luar jangkauan. Buktinya Mendozza tidak menemukan segaris sinyal pun di layar ponselnya. Padahal baru saja ia berniat menyalakan Ipad untuk mengupload foto-foto diblog. Huuuu… akhirnya  hanya mengkoleksi foto-foto ini sampai nanti bisa ke kota untuk mampir di coffee shop. Pokoknya ia harus life report liburan kali ini, minimal bos bisa lihat kalo seorang mendozza benar2 cari inspirasi. Oogghhh cukup-cukup!! Berhenti memikirkan bos, itu akan merusak mood refreshingnya karna nanti akan menjalar kesemua elemen yang memaksa otak bepikir lagi. Justru dia kan mau memanjakan otak. Hmmmm…..

Mendozza,anak itu berlari-lari girang hanya dengan celana pendek. Tangannya  ke atas sambil..ooghhh salto!! Ia pun berteriak-teriak dengan bahasanya. Berlari seperti de flash dan..byuurrr!! pasrah ditelan ombak. Ketika aku sampai dipinggir laut dia sudah ada ditengah sambil berteriak-teriak memanggil namaku..egh bukan..dia memanggilku “cantik..cantik..” rasanya berkenalan di kereta kuda tadi tidak ada gunanya buat dia. Hmm.. anak yang aneh! Aku pun mulai membiarkan kakiku basah ditabrak air. Sepertinya lebih nikmat kalau aku melepas kasutku dan memanjakan kakiku di atas pasir putih dan menginjak karang. Dingin..tapi enak kakiku seperti dipijit.  Aku pun mulai memberanikan diri berjalan pelan-pelan. Merasa rugi kalau tidak jalan sampai ke sana..karna lautnya bersih sekali..masih biru bening..aku saja masih bisa melihat dasar lautnya. Hanya ada beberapa bule juga yang tour kesini (katanya). Rasanya indah sekali tidak menemukan kelompok manusia disurga dunia ini. Dan yang paling membuat aku bahagia, aku berhasil menabung untuk membeli kamera waterproof yang bisa dibawa menyelam. Liburan ini buat aku sungguh mempesona. OOffggg….ombak datang. Bersiap menyambut Mendozzaa…..hhuuuaaa…jjeebbyyuuuurrr!!! Basaahhh…. Aku pun tertawa puas…

“Rasanya kau menikmati sekali diguyur ombak?”

Aku tak menjawab masih mengusap wajahku.

“Itu ombak khusus buat mu. Laut sedang menyambutmu. Hayo…kita hampiri mereka.”

“Siapa?” tanyaku heran. Takut sama bahasanya.

“Laut. Karang.Gurita. Bintang laut. dan ikan. Oia..kau suka lobster?”

Anak ini!! Hampir aja aku berpikir mistis.

“Suka sangat, Ureng.”

“Baiklah cantik, kita akan memancing gurita dan lobster. khusus untuk mu. Laut sepertinya menyenangimu.”

“Dari mana kau tau?”

“Mereka baru saja membisikkannya padaku?”

“Apa?”

“Tidak perlu kaget. Aku akan mengajarimu supaya kau bisa tau bagaimana laut berbisik padamu.”

“Ogghh tidak perlu Ureng..cukup seperti ini saja.”

“Kau takut?? Kau pikir aku menakut-nakuti mu?”

Aku hanya diam.

“Aku hanya ingin mengajakmu bersahabat dengan alam. Mengenalkan mereka padamu supaya kau bisa jatuh cinta pada mereka.”

“Berdiri dipinggir sini saja aku sudah jatuh cinta pada laut ini Ureng.”

“Hanya jatuh cinta pada pandangan pertama. Aku ingin mengajak mu lebih dalam lagi.”

“Yaaaa..aku ingin kamu tidak hanya datang lalu jatuh cinta dan pulang ke kotamu. Aku ingin kau akan merindukan laut ini setelah semua yang kau nikmati di laut ini.”

“Bahasamu, anak kecil”

“Aku hanya meniru kata-kata tur gaid yang membawa pasukan rambut pirang itu berjemur di lautku.”

“Hahaaa….kau!! Lalu mana mereka sekarang?”

“Tempat ini masih jarang dikunjungi. Hanya beberapa..mungkin belum tersebar. Tapi lebih baik begitu. Karna kalau  mereka datang aku segan memancing gurita.”

“Kenapa?”

“They are so sexi.”

“Hahaaaa….Ureeeeennngg!!!”

“Ibu juga melarang aku main-main kesini kalo mereka datang. Katanya sama saja dengan mengintip orang mandi.”

“Haaaa???? Hahahaaaa………”

“Kenapa kau tertawa?”

“Hmm..lucu..”

“Ibuku memang lucu. Tapi dia baik. Masakannya enak. Masak ini saja enak.”

Opppsss…. “Keong?”

“Yaa… I like it.”

“Hahaa…may i dinner at your house tonight?”

“Kamu bicara apa sih cantik?”

“Hahahaaaa……..”

“Oia..kau mau berkenalan dengan ibuku tidak? Kalau mau malam ini saja setelah ibuku pulang dari laut. Jadi kau bisa makan malam dirumahku.”

I told u last. “Hahahaaaaaaa….oke-oke!!!! Senang menerima undangan makan malammu, anak kecil.”

“Thank you, Prettty Woman.”

“Hahahaaaaaaa…………………………….”

Buat Mendozza Ureng sahabat lucu yang pintar. Sederhana sekali dia tapi dia punya banyak keajaiban yang Mendozza ga bisa. Berbicara dengan laut, mendengar laut yang berbisik padanya, mengerti bahasa alam dengan tiupan angin, bercanda dengan kepiting, balapan sama ombak lalu mereka saling berpelukan, dan yang paling ga aku duga dia menangis saat lobster dan gurita-gurita itu dibunuh untuk dimakan. Dan setelah mereka matang Ureng mengucapkan terimakasih sambil berkata, “Gurita dan lobster kau memang sahabat terbaik, kau memberikan kelezatan istiemewa untuk lidahku memanjakan perutku dan….” ia melirikku “…terima kasih kau menyambut si pretty woman ini dengan baik. aku senang.” Mendozza pun tersenyum dan mengambil lobster kedua yang rasanya unik tapi waahhhh  mantabb!! Ureng tidak berbohong kalo ibunya memang koki handal. Sekalipun rasanya pedas sekali, getir dilidang, bibir panas sekali, tapi entah kenapa aku tidak ingin berheenti mengunyah. Hmmm…… Ibu Ureng hanya tersenyum ramah dan sangat senang melihat Mendozza makan lahap. Ia pun bersenandung bahagia. Pastinya momen ini tak lupa aku abadikan. Ayah Ureng yang mengambil gambar mereka. Dia tidak mau difoto.

“Hmm…semua orang mencariku mendozza. Twiiterku banyak orang berkicau. Facebookku banyak post yang bahasanya ga lain ga bukan “wanted”. Untunglah aku tidak membawa blackberry pasti berisik sekali. mengganggu!!”

“Mendozza…villa ini bagus yaa.. asri.. dan nyaman. Aku bisa denger jangkrik malam hari. Dingginnya alami dan segar. Dari kemarin juga aku bisa makan lalapan langsung petik dari pohonnya. Kalo makan itu hmm..berasa banget. Mancing terus masak degh..nyamnyam.. Ga cuma itu zzaa..penduduknya ramah-ramah. Lepas dari semua orang yang memang ramah sama aku. Mereka ramahnya bukan karena aku siapa, jujur dari hati. Haha..ia lah mereka kan mana tau-tau itu soal aku konseptor EO mahal. Yang pasti aku kerasan disini Zzaa.. Aku suka cara menatap penduduk sini yang ramah dan tulus. Aku suka Ureng dan keluarganya. Hmm…sepertinya aku bakal sedih banget berpisah dengan Ureng. Anak aneh itu ngangenin banget. Hmm gimana cara berhubungan dengan Ureng ya setelah aku pulang nanti?” Disini punsel masih langka, boro-boro ponsel, sinyal aja nol. Kalo nulis surat Ureng harus ke kota dulu untuk diantar ke pak pos. Itu kata Ureng  semalam. Terus gimana cara ya Zzaa??

“Jadi cantik mau pulang tiga hari lagi?”

“Ia Ureng”

“Mentang-mentang sudah jago berenang ya..”

“Bukan gitu Ureng..aku harus kerja”

“yaa..untuk bisa kembali lagi ke laut ini kan cantik?”

Hatiku pun tergelitik. Untuk kembali lagi ke laut ini??

“Ia Ureng…untuk kembali lagi ke laut ini, untuk mamak, dan Ureng..”

“Terima kasih Cantik. Ureng senang . Tak perlu pun cantik kembali ke laut ini yang penting Cantik senang bermain bersama Ureng di laut ini, bersahabat dengan alam, makan masakan mamak, dan yang pasti Ureng cuma berpesan jangan biarkan laut ini didatangi turis.”

“Takut diteriakin Mamak karena Ureng ngintipin orang mandi?”

“Haha..Iaa.. ”

“Ureng..”

“Bukan cuma itu cantik.”

“knapa?”

“Ureng takut melihat turis-turis itu. Ureng takut berharap kalau salah satu turis itu adalah Cantik.”

“Maksudnya?”

“setahun lalu ketika rombongan turis datang Ureng punya sahabat namanya Jorjina..katanya tulisan namanya seperti ini..” Ureng menulisnya di pasir G E O R G I N A

“Georgina baik. Bahasa Inggrisnya pintar. Dia suka makan ciki. Dan Ureng suka dikasih. Imblaannya Ureng kasih dia makan gurita. She loved it so much. Katanya pedass sampai minum berkali-kalii tapi tak kapok juga.”

“Jorjina janji mau datang lagi pas di waktu ini. Tapi ternyata dia bohong. Dia tidak datang. Padahal kami sudah berjanji diatas karang di tengah laut itu. Laut saksinya. Tapi turis tidak bisa dipercaya.”

“Terus??”

“Matahari yang sama waktu Jorjina berjanji dihadapan laut. Lihat!”

“Angin yang sama juga bertiup hari ini dengan waktu Jorjina berjanji untuk Ureng.”

“Ureng menanti berbulan-bulan. Di bawah pohon itu. Di tengah laut. Di perahu. Di mulut jalan. Di kereta kuda..sampai akhirnya Ureng bertemu Pretty Woman.”

“Terus hubungannya apa Ureng?”

“Cantik ga perlu janji untuk balik ke laut Ureng. Simpan saja dalam hati, tak perlu diucap.”

Aku hanya terdiam. Ureng pasti punya perasaan terpendam. Tapi tidak bisa membahasakannya. Mungkin Ureng senang punya teman baru. Karena Ureng senang bersahabat. Ureng bersahabat dengan laut, dengan karang, dengan, gurita dan lobster, dengan angin. Apalagi bersahabat dengan manusia, makhluk yang bisa membalas tatapan Ureng yang polos, yang bisa bicara sebenarnya dan menanggapi dia nyata, yang bisa mengejarnya sambil bercanda dengan teriakan “hai alam apa kabar?”. Dan yang pasti yang bisa Ureng kenalkan kepada sahabat-sahabat alamnya itu. Seperti waktu itu, “Hai dengarkan semua.” Dan seketika itu angin berhenti berisik. Benar telingaku langsung tenang setenang-tenangnya. Daun pun tak bergoyang, sungguh aku melihat pergerakannya yang tiba-tiba berhenti. “Kenalkan sahabat baruku, Mendozza Pretty Woman” Setelah berhenti mengucapkan Woman. Ombak menghempas di tubuh kami. Angin  pun menderu lagi. Daun-daun mulai berjoget kembali. Ikan melompat sampai ke pinggir laut. Dan kepiting seakan berlari ingin menjepit kakiku. Aku pun lari geli disusul Ureng yang berteriak “Jangan takut itu hanya sapaan halo dari alam”.

Haha……….Ureng sahabat baruku dari pulau kecil.

Mungkin Ureng sedih dia hanya sebentar merasakan punya teman. Mungkin Ureng sedih tidak pernah punya sahabat yang umur panjang. Karena Ureng tidak punya teman lagi di laut ini. Kata Ureng semua temannya bermain di pasar, memotong rumput untuk peternakan juragan kaya di desa sebrang. Ureng lebih suka disini. Menikmati surga bumi dan menatap surga di balik awan dari kaki bumi ini.

Ureng tidak menangis. Padahal aku tau kalau dia sedang hancur karena aku ingin pulang. Tak ada ubahnya aku dengan Jorjina kalau aku mengajaknya lomba berenang ke tengah laut lalu mengajaknya berikrar di karang itu. Ingin sekali aku menghiburnya tapi tak tahu caranya. Adat anak ini belum bisa kukenali kalau sedang sedih seperti ini. Sayang, kemarin kami hanya saling kenal disaat tertawa bersama. Seandainya aku tau apa yang ada di hatimu Ureng, aku tidak akan diam seperti ini. Sesungguhnya ini lebih hebat dari kehidupanku yang biasa bisa menebak mau klien hanya dari kalimat pertamanya saja. Tapi untuk Ureng ini terlalu istimewa. Karena anak aneh ini sanggup membuat kepalaku tak berhenti bertanya apa maunya. Ureng..Ureng…seandainya aku bisa bertemu Jorjinamu. Aghhh harapan konyol, kenal juga engga. Hmmm…

“kenapa diam?”

“ahh engga Ureng hanya mencoba melihat matahari”

“hah?? kan silau..nanti mata kamu buta.”

“engga. sudah biasa dan ga buta kan?”

“Ia..” Aku hanya bisa melihatnya tak bersemangat hari ini. Beda dari kemarin. Ureng bersemangatlah. Ayolah Ureng..

“Sekarang kau sudah merasa dekat dengan laut disini?”

“Ya..”

“Dan kau pun sudah bisa berenang ya.”

“Ia Ureng itu karena kamu.”

“Bukan karena kau sudah mencintai laut ini jadi kau akhirnya bisa.”

“mm…” aku pun terdiam. sepertinya anak ini sedang bicara dalam dengan bahasanya sendiri, hatinya, dan pikirannya.

“Aku memang sudah cinta sama laut ini Ureng .. aku bahkan tak bisa berpikir bagaimana aku tanpa laut ini dan dirimu sepulangnya aku ke kota”

“Kau bisa duduk lagi di depan mesin kotakmu sambil rebahan di atas tilam empuk yang hangat.”

“Kau salah. aku memilih untuk berenang bersama gurita dan lobster di dasar laut. berlari di atas pasir putih menghindari ombak dan kepiting. Duduk di atas karang sambil makan kacang rebus. Dan bercerita bersamamu di bawah pohon ini.”

Ureng menatapku. Matanya berkaca-kaca.

“Kata-kata itu cerminan hatimu cantik?”

Aku mengangguk menatap matanya.

“Jangan berusaha untuk menghibur aku, aku tahu kau sedang berusaha untuk itu.”

Kena. Memang benar,mendozza.

“Setidaknya aku tidak ingin berjanji bohong padamu anak kecil. Aku tidak akan mengatakan sumpahku di atas karang laut di tengah sana seraya berteriak kepada laut supaya terumbu karang mendengar bahwa aku akan kembali lagi. Tidak. Aku tidak perlu teriakan seperti itu. Itu bukan aku. Kau tidak perlu bersedih akan kecewa keduakalinya. Aku hanya minta ijin kepadamu. Untuk menulis kisahku bersamamu di laut ini. Di laut yang kan kuberi nama Laut Ureng, karena kau tak pernah memberitahuku apa atau siapa nama laut ini. Dan ijinkan aku untuk menjadikan kisah dua sahabat, aku dan kau, sebuah novel. Entahlah apa yang akan terjadi dengan novel aku tidak  bisa memberitahukan kepadamu sekarang karena aku belum membuatnyal. tapi semua sudah terekam disini. dan membuatnya menjadi terkenal dan laku tidak semudah memancing gurita dan lobster di dasar laut, tidak semudah berenang.”

Ureng menatapku. Menyentuh wajahku untuk pertama kalinya.

“Kau pasti bisa. Pasti. Aku yakin.

Katamu kau tak bisa berenang kemarin. Sekarang kau bisa kan? Hanya lima hari. Hanya lima hari kau bisa berenang ke tengah laut dan memancing gurita dan lobster ke dasar laut. Menyelam. Tidak kah kau tau bahwa itu sangat hebat?”

“Pasti kau bisa membuat novel itu Mendozza.”

“Mendozza?”

“Yaa..”

Aku pun tersenyum dan meraih tangannya. Kugenggam. “Bagaimana jika novel itu terkenal dan semua akan datang ke laut ini Ureng? Ibumu akan melarangmu main kesini lagi. Kau tak sebebas Ureng yang bermesraan dengan ombak lagi.”

“Akan kuberitahu ibuku kalau mereka teman-temanmu. Ibuku menyukaimu. Dia pasti menyukai teman-temanmu.”

“Semalam ibu bertanya apakah kau akan kembali lagi di hari depan?”

“Ayah juga bertanya, begini katanya –hei Ureng apakah temanmu yang sekarang ini akan membuatmu menunggu matahari lagi?–”

Aku hanya diam, Mendozza. Tak bisa kujawab langsung. Dalam hatiku

Ureng akan kubuat kau terkenal. Akan kubuat kau dan ibumu melihatku lagi di hari depan. Tapi aku tidak bisa janji sekarang Ureng.

 

—bersambung—