aku mulai bisa menulis lagi…

ya aku mulai bisa menulis lagi..

menulis rasa yang kemarin sempat mati.

menulis pikiran yang stuck tak berseni.

menulis cinta yg kupikir sudah rest in galau.

aku kembali.

yahh aku kembali.

pada keceriaanku yang dulu.

pada senyumku yang sempat memuai ditetesan air mata.

pada keinginanku untuk menulis lagi..

menulis untuk menebus lembaran cerita yang pernah kutumpahkan dengan tinta.

menulis untuk melukiskan keceriaanku lagi.

menulis untuk rasa syukurku atas lembar yang mulai berwarna putih ini…

menulis untuk menghadiahkan kado teristimewa untuk adamku dari Bapaku.

“kamu sedang apa??”

–aku disini sedang menulis untuk mu. di kaca yang berembun. di sini hujan. aku pikir menulis di saat hujan membuatku pintar untuk menulis lagi. ditemani suara rintiknya yang membuatku rindu kamu ada disini. seperti waktu itu..ketika kau duduk berhadapan dengan laptopmu dan aku duduk disisimu sambil bertanya dengan cerewetnya. sore itu kamu bilang, “kamu cerewet banget sii..sama kaya rintik hujan” sambil membelai rambutku dan menatapku penuh sayang. dan mulai saat itu..aku suka sama rintik hujan.

–sebentar yaa..aku bikin teh dulu.

upppss…lagi-lagi harum teh mengingatkan aku pada mu. aku suka buatin kamu teh hangat waktu kamu datang bertandang ke rumahku. setelah itu aku masakin kamu semangkuk indomie rebus dan sebutir telur pake cabe rawit hijau. sabtu malam itu kamu bilang, “mmm..enakk..pantes kamu keriting manis..masak mienya enak” aku pun tersipu malu dan mengecup keningmu.

“oiaa..kau tau..disini hujan masih menemaniku menulis. petirnya jadi backsoundku.entah kenapa aku suka hujan hari ini. padahal kemarin aku sempat menangis saat hujan mulai mempesona di balik jendela. itu karna kemarin aku sangat merindumu. tapi kini sudah tidak lagi. sejak hujan habis. air mataku pun habis. dan sekarang hujan datang lagi ternyata air mataku sudah  beganti menjadi pelangi. kau tau karna apa?? karna kau sudah bukan awanku lagi. awan sudah berganti menjadi langit. dan sejak saat itu aku suka sama langit. aku mulai berteman dengan matahari. dengan bulan. dengan venus. bahkan aku sempat duduk ditangga menuju bintang. dan kau tau?? saat aku bermain bersama mereka, aku ingat ucapan, “kalau ada jarak yang misahin kita, kita lihat aja bulan..karna kita tetap melihat bulan yang sama. itu berarti kita saling bertatapan.” dulu hatiku terenyah mendengar ucapan itu. tapi sekarang engga lagi. karna kita sudah ada di siang hari. aku pun tersenyum ketika akhirnya aku kuat mengetik kalimat terakhirku.

–aku sedang menatap ponselku. lalu mengambilnya dan mulai memutar gambar.

dulu aku hanya menunggumu diponselku. tak kusentuh takut jariku tanpa sengaja menekan tombol end padahal sinyalmu tengah tersalur ke 12 digitku. tapi phobia itu sudah sembuh sekarang. buktinya jemariku sudah lincah bermain diatas tuts kibord memainkan fitur handphoneku yang baru. dan kuputuskan untuk tidak menyimpan nomormu karena aku takut naluriku ingin sekali menghubungimu.sekali pun sejujurnya aku masih ingat 24 digit nomormu.

pagi ini aku sudah di kantor. sepanjang perjalanan aku tidur. mataku terasa berat sekali. tapi entah kenapa klik aja saat sampai ditempat dengan mataku yang mulai melek. kau tau sepanjang aku memejamkan mata?? aku teringat memori dulu..karna jalan yg aku lalui setiap pagi jalur kita dulu di atas dua roda. kau tau?? untuk mengganti wajahmu disepasang mata coklatku saat terpejam aku rela berdiri supaya aku tidak duduk untuk memejamkan mata.karna sekarang aku takut untuk memejamkan mata karena senyummu pasti datang .

komputerku sudah rusak. aku ingin ganti netbook saja. biar bisa kujinjing kemanapun aku melangkah. biar aaku bisa mengetik dimanapun aku ingin menulis tentang dia. ya..diaa.

kau tau??

bagiku kau seorang yang spesial. spesial diusiaku yang kemarin. dan kini aku sudah bersama menjadi seorang yang spesial. spesial yang abadi. dan aku sudah jatuh cinta padanya!

dan ini yang harus kau tau….

aku tidak lagi didalam kotak ungu. aku sudah terbang layaknya burung pipit yang berkicau melewati hijau yang rimbun. menabrak garis-garis sinar oranye dan bertengger diranting coklat tua. mematokkan paruhku pada si merah delima yang manis.

dan sejak itu aku sudah bisa menulis lagi. lancar!

..tentang cinta yang mengalun minor dan mayor ditangga nada hati kita. aku menyayangimu karna kasihmu yg merdu. kau bernyanyi dengan tenor dan aku disini menopangmu dengan altoku. iringan pianomu menjadi musik hidup kita…

…do re mi fa so la si do berdenting merdu di atas tuts-tuts keyboard. layaknya kagum yang me-RE menuju nada FA..naik menjadi nada LA menjadi sayang dan kita tengah mengalun di nada SI dengan untaian kasih dan soul kasihmu, tenorku…

aku selalu tersenyum disetiap kau memainkan nada dengan khas tenormu..

aku selalu terkagum kala kau mulai menarikan lenganmu didepan barisan yang kau sebut harmonisasi not yang mengalun merdu..

aku selalu bangga kala kau mulai bersolo dengan “forever” mu..

falsku mulai merdu kalau kau mulai menatapku dan menyaringkan suaramu didepan wajahku yang tersenyum malu..

altoku mulai menggema ketika mata sipitmu mengedip meluapkan semangatku menerjang not-not minor yang sangat sulit aku nyanyikan..

ekspresiku mulai cantik disetiap kau melemparkan pandanganmu di alto, menatapku penuh cinta beberapa kali..

tersenyum kudisini sambil memandang senyummu yg terlukis dipotret biru.menari kudisini dgn iringan simfoni lagu yg kau rekam untukku.kuingin kau selalu hadir dalam stiap hela kubernafas karna:aku adalah kamu & kamu adalah aku.dan kita ada didalam DIA

itu gumaman hatiku saat ini..

dan kau tau ini balasnya:

ajarku menulis..untuk mengerti bahasamu..kata yang kau rangkai untuk memujiku..karna kata itu aku kau jadikan lirik..lirik lagu untuk terima kasihku kepada Sang Pencipta atas sayangmu pada hatiku

makasii cintaa..wish u’re the last.

tentang cinta yang mengalun minor dan mayor ditangga nada hati kita. aku menyayangimu karna kasihmu yg merdu. kau bernyanyi dengan tenor dan aku disini menopangmu dengan altoku. iringan pianomu menjadi musik hidup kita… 

…do re mi fa so la si do berdenting merdu di atas tuts-tuts keyboard. layaknya kagum yang me-RE menuju nada FA..naik menjadi nada LA menjadi sayang dan kita tengah mengalun di nada SI dengan untaian kasih dan soul kasihmu, tenorku…

aku selalu tersenyum disetiap kau memainkan nada dengan khas tenormu..

aku selalu terkagum kala kau mulai menarikan lenganmu didepan barisan yang kau sebut harmonisasi not yang mengalun merdu..

aku selalu bangga kala kau mulai bersolo dengan “forever” mu..

falsku mulai merdu kalau kau mulai menatapku dan menyaringkan suaramu didepan wajahku yang tersenyum malu..

altoku mulai menggema ketika mata sipitmu mengedip meluapkan semangatku menerjang not-not minor yang sangat sulit aku nyanyikan..

ekspresiku mulai cantik disetiap kau melemparkan pandanganmu di alto, menatapku penuh cinta beberapa kali..

tersenyum kudisini sambil memandang senyummu yg terlukis dipotret biru.menari kudisini dgn iringan simfoni lagu yg kau rekam untukku.kuingin kau selalu hadir dalam stiap hela kubernafas karna:aku adalah kamu & kamu adalah aku.dan kita ada didalam DIA

ajarku menulis..untuk mengerti bahasamu..kata yang kau rangkai untuk memujiku..karna kata itu aku kau jadikan lirik..lirik lagu untuk terima kasihku kepada Sang Pencipta atas sayangmu pada hatiku

Hitam itu mulai memutih….

aku mulai bisa menulis lagi…

ya aku mulai bisa menulis lagi..

menulis rasa yang kemarin sempat mati.

menulis pikiran yang stuck tak berseni.

menulis cinta yg kupikir sudah rest in galau.

aku kembali.

yahh aku kembali.

pada keceriaanku yang dulu.

pada senyumku yang sempat memuai ditetesan air mata.

pada keinginanku untuk menulis lagi..

menulis untuk menebus lembaran cerita yang pernah kutumpahkan dengan tinta.

menulis untuk melukiskan keceriaanku lagi.

menulis untuk rasa syukurku atas lembar yang mulai berwarna putih ini…

menulis untuk menghadiahkan kado teristimewa untuk adamku dari Bapaku.

“kamu sedang apa??”

–aku disini sedang menulis untuk mu. di kaca yang berembun. di sini hujan. aku pikir menulis di saat hujan membuatku pintar untuk menulis lagi. ditemani suara rintiknya yang membuatku rindu kamu ada disini. seperti waktu itu..ketika kau duduk berhadapan dengan laptopmu dan aku duduk disisimu sambil bertanya dengan cerewetnya. sore itu kamu bilang, “kamu cerewet banget sii..sama kaya rintik hujan” sambil membelai rambutku dan menatapku penuh sayang. dan mulai saat itu..aku suka sama rintik hujan.

–sebentar yaa..aku bikin teh dulu.

upppss…lagi-lagi harum teh mengingatkan aku pada mu. aku suka buatin kamu teh hangat waktu kamu datang bertandang ke rumahku. setelah itu aku masakin kamu semangkuk indomie rebus dan sebutir telur pake cabe rawit hijau. sabtu malam itu kamu bilang, “mmm..enakk..pantes kamu keriting manis..masak mienya enak” aku pun tersipu malu dan mengecup keningmu.

“oiaa..kau tau..disini hujan masih menemaniku menulis. petirnya jadi backsoundku.entah kenapa aku suka hujan hari ini. padahal kemarin aku sempat menangis saat hujan mulai mempesona di balik jendela. itu karna kemarin aku sangat merindumu. tapi kini sudah tidak lagi. sejak hujan habis. air mataku pun habis. dan sekarang hujan datang lagi ternyata air mataku sudah  beganti menjadi pelangi. kau tau karna apa?? karna kau sudah bukan awanku lagi. awan sudah berganti menjadi langit. dan sejak saat itu aku suka sama langit. aku mulai berteman dengan matahari. dengan bulan. dengan venus. bahkan aku sempat duduk ditangga menuju bintang. dan kau tau?? saat aku bermain bersama mereka, aku ingat ucapan, “kalau ada jarak yang misahin kita, kita lihat aja bulan..karna kita tetap melihat bulan yang sama. itu berarti kita saling bertatapan.” dulu hatiku terenyah mendengar ucapan itu. tapi sekarang engga lagi. karna kita sudah ada di siang hari. aku pun tersenyum ketika akhirnya aku kuat mengetik kalimat terakhirku.

–aku sedang menatap ponselku. lalu mengambilnya dan mulai memutar gambar.

dulu aku hanya menunggumu diponselku. tak kusentuh takut jariku tanpa sengaja menekan tombol end padahal sinyalmu tengah tersalur ke 12 digitku. tapi phobia itu sudah sembuh sekarang. buktinya jemariku sudah lincah bermain diatas tuts kibord memainkan fitur handphoneku yang baru. dan kuputuskan untuk tidak menyimpan nomormu karena aku takut naluriku ingin sekali menghubungimu.sekali pun sejujurnya aku masih ingat 24 digit nomormu.

pagi ini aku sudah di kantor. sepanjang perjalanan aku tidur. mataku terasa berat sekali. tapi entah kenapa klik aja saat sampai ditempat dengan mataku yang mulai melek. kau tau sepanjang aku memejamkan mata?? aku teringat memori dulu..karna jalan yg aku lalui setiap pagi jalur kita dulu di atas dua roda. kau tau?? untuk mengganti wajahmu disepasang mata coklatku saat terpejam aku rela berdiri supaya aku tidak duduk untuk memejamkan mata.karna sekaang aku takit untuk memejamkan mata karena senyummu pasti datang .