di meja ini aku menyelesaikan semuanya.
checklist, surat-surat, akte sampai warna-warni kertas A4 sudah kususun rapi di atas mejaku.

butuh waktu 2 menit untuk memejamkan mataku yg berat. mulai berair dan berharap tidak merah.

semalam aku menghabiskan 1 kaleng minuman bersoda untuk menulis 1 judul cerpen. pastinya ditemanin tiga bungkus ciki yang sampahnya masih berceceran ketika ku harus pergi ke kasur.

pagi ini aku melihat jingga di balik tirai hordengku yang baru saja dua hari lalu diganti ibu dengan motifnya yang berenda putih senada dengan sepraiku. mentari menyapa sepasang mata coklatku yang masih kupaksa untuk melihat jam berapa ini. telingaku sudah bersahabat dengan teriakan tukang roti dan gaduh anak-anak sekolah. kulipat tanganku dan pejamkan mata lagi. Amin. Lalu aku pun menyiram tubuhku dengan dinginnya air di bak. Kumainkan busa putih yang menyelimuti rambut dan tubuhku. Kutiup dan putih salju i tu pun terbang dan pecah di udara. Aku tersenyum. Lalu aku pun bernyanyi memulai keributan di suasana pagi singgasana panjaitan.

Gincu merah muda dan blush on sudah tersapu lembut di wajahku. Aku pun siap melangkah meninggalkan rumah dalam beberapa jam.

Headset terpasang di telingaku yang tak beranting. Lagu berputar dari track 1 sampai kesekian. Entah apa yang mereka nyanyikan. Aku tak paham betul. Jiwaku sudah melayang jauh bersama angan dan mimpiku. Terbang kian kemari mengharapkan adanya warna baru di halaman hidupku sebagai seorang gadis yang sudah waktunya untuk menikah.

Mataku kosong melihat si ibu menggendong anaknya dengan kain coklat. Di otakku tidak ada lagi warna ungu yang pernah kukelir dengan air mata. Tidak ada lagi warna abu-abu ketika aku memilih untuk bersikap ragu. Bahkan biru toska itu sudah memudar ketika aku menangis dan menjadi putih ketika ia datang dengan kesetiaan hatinya untuk memilikiku.

Aku masih ingat dengan buku warna-warni. Tulisan hati yang pernah kuceritakan tentang hijaumerahoranye nya cerita hidupku. Aku yang pernah terdampar di tepi laut untuk empatbelas lembar uang merah. Aku yang harus menghabiskan banyak uang biru untuk mengejar mimpiku memakai seragam merah abu-abu dan berdiri didepan kamera. Aku yang kehabisan logaman perak hanya karena menginginkan status dan digit 0 yang bertambah dibelakang nominal salaryku. Entah semuanya dapat kudrash dengan warna ungu. Kepahitan hidup.

Kuberitahu 1 rahasia. Aku baru saja mendistroi kertas surat keluar yang ada angkanya. Hanya karena kop surat dibawah. Padahal sudah terpampang jelas dekat dengan printer dan mesin fotokopi “Go Green Save Papper Usefully”. Aku pun langsung berakting seakan sudah menyelamatkan dunia. Padahal kesalahan itu aku lakukan karena pikiranku sedang tidak sejalan dengan kenyataan. Aku sedang melemparkan pikiranku kepada pria disana yang sedang duduk mendengarkan dokternya memberikan ujian oral. Senyum terlukis manis di ujung bibirku kalaku mengingat masa-masa bermanja dengannya. Bersandar didadanya. Mengusap wajahnya. Memainkan jemarinya hingga bosan aku pun meraih rambutnya untuk kuacak-acak. Melemparnya dengan kertas kecil-kecil yang sengaja kubuat sambil menyambutnya datang ke rumah. Loncat ke atas punggungnya dan kami pun jatuh ke atas spring bed yang empuk.

Aku menyanginya. Sangat. Tak sedetik pun dia hilang dari rekaman memoriku. Aku bahkan sudah membayangkan rumah pohon, kamar dengan seprai dan korden putih yang penuh gelak tawa kesenangan aku, kekasihku, miguel, dan voice. Oia miguel dan voice adalah nama buah cinta yang akan kami hadiahkan u ntuk si mungil yang akan lahir dari rahimku nanti. Dan kami berempat akan memadukan rasa sayang rindu dan curhatan kami di meja makan. Manjanya voice badungnya miguel, cerdasnya miguel pintarnya voice..mengiringi suara cinta aku dan dia yang sangat kusayangi..seumur hidup kami. Voice bagi kami adalah sopran yang bernyanyi merdu. Miguel untuk kami bertiga musik canda dankeriangan hati.

Tak ada yang lebih indah selain menikmati salad buah berdua di restoran italia sambil menyeruput lemon sparkling dan mochaice cream jelly. Hidangan lainnya seloyang pizza dengan toping beef n mushroom, jangan lupa pesanan roti kering mentega yang gurih dan lezatto jika disiram tobasco di atasnya. Hmmm..meja semakin penuh chicken grilled favoritku datang bersama spagheti yang ciss!! Dan kami menikmati sambil merekam gambar bersama menu favorit ini. Banyak cerita yang terlontar dari bibir ini. Sambil mengunyah kami berkicau soal masa depan, soal rumah berbentuk perahu bahtera dengan material kayu kokoh dan design interior mewah layaknya kapal pesiar. Kami melambungkan angan pada cita masa depan. Tapi tak menskip gemelut rasa yang tengah bergejolak panas saat ini.

Yaghh..aku dan dia.

Kini tengah bertengarai pada tuduhan bahwa dia bukan orang yang baik karena masa lalu kami. Entahlah otak berputar mencari kunci untuk keluar dari ruang problematik yang rapat digembok dan hanya keajaiban yang bisa menolong kami. Karena secercah cahaya pun  belum bisa kami lihat di satu lubang saja. Teriakkan kami pun hanya sayup-sayup hambar yang kabur ditelan angin dan kicauan burung tapi-tapi. Hanya tatapan hangat dari kami yang mampu menyejukkan hati. Memeluknya erat dan pasrah untuk didekap didadanya yang berdetak kencang sampai bisa kurasakan hatinya berbisik “Tuhan tolonglah kami”.  Tangannya diletakkan dikepalau dan mengusap rambutku lembut. Dari usapan tangannya aku merasakan perlindungan yang sangat kuat sampai membuat jantungku sekejap berdeta kencang dan aku semakin erat melingkarkan tanganku di pinggangnya dan menyandarkan tubuhku pasrah ditubuhnya. Nyaman. Aku merasakan kenyamanan yang luar biasa. Dan ia pun mersakan itu. Sangat bisa kurasakan dia juga merasakan apa yang kurasakan. Tubuhnya sigap menopang tubuhku lalu dagunya pun ditautkan dikepalaku sambil mengecupku dan berbisik “Tenang sayang kita pasti bisa menyelesaikan ini semua, karena rasa yang kita punya lebih besra dari masalah ini.Aku ga akan kemana-mana. I am yours and you are mine.” Aku pun mengangguk dan setetes air mata ini jatuh didadanya, semakin menepis keraguanku, dan meyakinka aku bahwa dia yang terakhir.

Agghh..aku terbuai pada asmara dengan senyuman semua orang. In a fact sepasang mata mengajak teman-temannya untuk melirik sinis pada cinta kami. Cemburu dan menghakimi dengan kata-kata tidak mungkin. Yang semuanya digarismerahi dari cerita masa lalu. Agghh..tidakkah manusia hidup dimulai dengan hari ini dan menyambut masa depan?? Buat apa masa lalu diingat lagi kalau hanya menjadi cambuk dan akhirnya melukai lagi?? Bukankah kita mengenal masa lalu sebagai cerminan agar ridak seperti keledai yang jatoh dilubang yang sama? Buat apa menjadi seseorang yang pemberontak yang tak mengenal siapa kawan dan siapa sahabat karna dibayang-bayangi cerita masa lalu yang buruk. Dan buruk itu bukan berarti  benar kan?? Mungkin saja karena fitnah dan tidak ada klarifikasi nama baik. Manusia hanya manusia sekalipun dia hakim. Bukan urusan kita untuk menghakimi sesama. Biarkan Tuhan yang bertindak. Tuhan saja punya hati yang pengampun. Pada intinya kasih yang tumbuh dihati kami adalah kasih sejati yang bahwasannya anugerah dari Sang Kasih. Jadi jangan salahkan kami ketika kalian melihat kami sedangberpegangan tangan. Karena kami sedang membagi perasaan rindu. Jangan paksa kami untuk bermuka murung sedangkan wajah kami sedang berseri-seri penuh bunga-bunga cinta. Karena kami sedang bersahabat dengan chemistry untuk membaginya kepada kalian. Jangan salah mata kami yang mengedip dan disambut senyum centil. Karna kami hanya ingin menyampaikan “i love you”. Tenang saja ini hanya kami adegan kami berdua. Tidak akan kami lakukan itu untuk pasanganmu.

Merajut benang sayang, menyulamnya menjadi gambar matahari, dan kami bingkai di dasar sanubari bahwa matahari yang kami sulam adalah rasa sayang yang kami rajut. Dan rasa itu akan kami simpan di hati yang paling dalam hingga tak seorang pun bisa mencurinya. Dan membuarkan itu bersinar dan bersinar menghangatkan dinginnya kesenderian, menerangi galau rindu saat jauh, dan yang paling penting menjadi matahari. Karena dimana pun kami berada kami tetap melihat matahari yang sama. Yaitu aku dan dia. Sekalipun dia ada di malam, aku tetap melihat matahariku. Sekalipun aku yang dimalam, dia tetap bisa melihat matahari..yaitu aku.

That’s it!!

Kulepas mouseku dan kuambil si samsung biru lalu ku pilih tombol start dan play the games.