hujan selalu bersahabat dengan dingin.

dan hampir disetiap momen itu ingin rasanya beranjak dari lesehan ini dan menuju dapur untuk merebus mie.

sayang!

kalau saja sedetik aku melepas mouse ku mereka akan menatapku dingin seperti hujan. karena otakku sedang subur-suburnya berkarya…

hmm..andai saja mereka datang di sore hari mungkin aku masih bisa menyuruh “Ida” merebus mie dan membuat secangkit teh hijau dan dua tetes madu. sekarang..diwaktu emergency ini aku harus mengerjakannya sendiri tanpa “Ida”.

Tengah malam ini aku lebih takut dengan mereka yang nagmbek untuk tidak show up daripada sayupan-sayupan angin yang membuat bulu tengkukku berdiri. Sudah terbiasa!! Apalagi mendengar gonggongan anjing yang makin lama makin jelas ditelingaku dan semakin tidak kupedulikan rasanya seperti sudah dibalik jendela bunyinya. Hmmpp…sudahlah tinggal menyetel lagu sekencang-kencangnya dan bermain games sebentar.

Setelah semua usai.

“Teruslah menulis, nak..!”

suara itu seperti lewat di telingaku.